Beranda

talk about social, politic, nature, and defense affairs

Monthly Archives: December 2010

Chatting (berbincang) dengan Tuhan

Seusai makan siang pada hari menjelang Tahun 2011, ada jeda yang tersisa untuk mengobrol dengan bang Aldy (rekan kerja di Waspada Online). Di selang-seling pembicaraan dari Timur ke Barat dan beranjak ke Selatan hingga perhentian Utara, adalah sebuah pesan dari kelompok komunitas Facebook abang ini yang menghenyakkan kami.

Dengan tidak sabar, saya pun meminta bang Aldy untuk mengirimkannya juga ke akun milik saya. Kesimpulan saya ini adalah bacaan yang sangat menggugah. Perlu dan menjernihkan di tengah kesumpekan perihal duniawi dan egoisme kita sebagai manusia.

======

TUHAN : Kamu memanggilKu ?

aku : Memanggilmu? Tidak.. Ini siapa ya?

TUHAN : Ini TUHAN. Aku mendengar doamu. Jadi Aku ingin berbincang-bincang denganmu.

aku : Ya, saya memang sering berdoa, hanya agar saya merasa lebih baik. Tapi sekarang saya sedang sibuk, sangat sibuk.

TUHAN : Sedang sibuk apa? Semut juga sibuk.

aku :

Nggak tau ya. Yang pasti saya tidak punya waktu luang sedikitpun.

Hidup jadi seperti diburu-buru. Setiap waktu telah menjadi waktu sibuk.

TUHAN :

Benar sekali. Aktivitas memberimu kesibukan. Tapi produktivitas memberimu hasil.

Aktivitas memakan waktu, produktivitas membebaskan waktu.

aku :

Saya mengerti itu. Tapi saya tetap tidak dapat menghindarinya. Sebenarnya, saya tidak mengharapkan Tuhan mengajakku chatting seperti ini.

TUHAN :

Aku ingin memecahkan masalahmu dengan waktu, dengan memberimu beberapa petunjuk.

Di era internet ini, Aku ingin menggunakan medium yang lebih nyaman untukmu daripada mimpi, misalnya.

aku :

OKE, sekarang beritahu saya, mengapa hidup jadi begitu rumit?

TUHAN :

Berhentilah menganalisa hidup. Jalani saja. Analisalah yang membuatnya jadi rumit.

aku :

Kalau begitu mengapa kami manusia tidak pernah merasa senang?

TUHAN :

Hari ini adalah hari esok yang kamu khawatirkan kemarin.

Kamu merasa khawatir karena kamu menganalisa.

Merasa khawatir menjadi kebiasaanmu.

Karena itulah kamu tidak pernah merasa senang.

aku :

Tapi bagaimana mungkin kita tidak khawatir jika ada begitu banyak ketidakpastian.

TUHAN :

Ketidakpastian itu tidak bisa dihindari.

Tapi kekhawatiran adalah sebuah pilihan.

aku :

Tapi, begitu banyak rasa sakit karena ketidakpastian.

TUHAN :

Rasa sakit tidak bisa dihindari, tetapi penderitaan adalah sebuah pilihan.

aku :

Jika penderitaan itu pilihan, mengapa orang baik selalu menderita?

TUHAN :

Intan tidak dapat diasah tanpa gesekan.

Emas tidak dapat dimurnikan tanpa api.

Orang baik melewati rintangan, tanpa menderita.

Dengan pengalaman itu, hidup mereka menjadi lebih baik, bukan sebaliknya.

aku :

Maksudnya pengalaman pahit itu berguna?

TUHAN :

Ya.

Dari segala sisi, pengalaman adalah guru yang keras.

Guru pengalaman memberi ujian dulu, baru pemahamannya.

aku :

Tetapi, mengapa kami harus melalui semua ujian itu?

Mengapa kami tidak dapat hidup bebas dari masalah?

TUHAN :

Masalah adalah rintangan yang ditujukan untuk meningkatkan kekuatan mental.

Kekuatan dari dalam diri bisa keluar melalui perjuangan dan rintangan, bukan dari berleha-leha.

aku :

Sejujurnya, di tengah segala persoalan ini, kami tidak tahu kemana harus melangkah…

TUHAN :

Jika kamu melihat ke luar, maka kamu tidak akan tahu kemana kamu melangkah.

Lihatlah ke dalam.

Melihat ke luar, kamu bermimpi.

Melihat ke dalam, kamu terjaga.

Mata memberimu penglihatan.

Hati memberimu arah.

aku :

Kadang-kadang ketidakberhasilan membuatku menderita.

Apa yang dapat saya lakukan?

TUHAN :

Keberhasilan adalah ukuran yang dibuat oleh orang lain.

Kepuasan adalah ukuran yang dibuat olehmusendiri.

Mengetahui tujuan perjalanan akan terasa lebih memuaskan daripada mengetahui bahwa kau sedang berjalan.

Bekerjalah dengan kompas, biarkan orang lain berkejaran dengan waktu.

aku :

Di dalam saat-saat sulit, bagaimana saya bisa tetap termotivasi?

TUHAN :

Selalulah melihat sudah berapa jauh saya berjalan, daripada masih berapa jauh saya harus

berjalan.

Selalu hitung yang harus kau syukuri, jangan hitung apa yang tidak kau peroleh.

aku :

Apa yang menarik dari manusia?

TUHAN :

Jika menderita, mereka bertanya "Mengapa harus aku?".

Jika mereka bahagia, tidak ada yang pernah bertanya "Mengapa harus aku?"

aku :

Kadangkala saya bertanya, siapa saya, mengapa saya di sini?

TUHAN :

Jangan mencari siapa kamu, tapi tentukanlah ingin menjadi apa kamu.

Berhentilah mencari mengapa saya di sini.

Ciptakan tujuan itu.

Hidup bukanlah proses pencarian, tapi sebuah proses penciptaan.

aku :

Bagaimana saya bisa mendapatkan yang terbaik dalam hidup ini?

TUHAN :

Hadapilah masa lalumu tanpa penyesalan.

Peganglah saat ini dengan keyakinan.

Siapkan masa depan tanpa rasa takut.

aku :

Pertanyaan terakhir, Tuhan.

Seringkali saya merasa doa-doaku tidak dijawab.

TUHAN :

Tidak ada doa yang tidak dijawab.

Seringkali jawabannya adalah TIDAK.

aku :

Terima kasih Tuhan atas chatting yang indah ini.

TUHAN :

Oke.

Teguhlah dalam iman, dan buanglah rasa takut.

Hidup adalah misteri untuk dipecahkan, bukan

masalah untuk diselesaikan.

Percayalah padaKu.

Hidup itu indah jika kamu tahu cara untuk hidup.

………TUHAN has signed out

===

NB: Mohon maaf bila ada kekhilafan publikasi catatan indah ini. Sebenarnya, saya tidak ingin menyelami semangat "copy & paste". Namun, amat sayang dilewatkan. hehehe.

Advertisements

Medan towards 2011: doubt vs hope

MEDAN, December 20, 2010 | Year-end countdown to step closer while breakthrough policies not yet performed by North Sumatera government. On the contrarily, law violations issue seems disseminated mostly by medias; such as graft case that is reportedly to suspect Medan city mayor Rahudman Harahap. North Sumatera governor Syamsul Arifin, even faces worst scenario as Corruption Eradication Commission (KPK) declared him a suspect in a Langkat budget embezzlement case, and is still detained in Jakarta. Rumors saying that he might serve the jail period for more a hundred days.

Along with KPK released an index of provincial government performance, national public eventually addressed at North Sumatera province as the most corrupted government compared with provinces evaluated by the anti graft commission. The announcement, actually, not surprising since the Indonesian Corruption Watch has issued similar assesment earlier.

However, it is a questionable stance to find no media willing to link the disappointed ‘achievement’ with North Sumatera’s image among investors and national/International scale community. Instead, the regional government stands firm those cases unlikely ruin the administration affairs.

The economic growth, nationally, is easily to refer from Jakarta’s surveys. But not for those aim to learn economic condition in North Sumatera, particularly in Medan city as the capital. The situation has long caused apathetic stance to regard the interest, mostly from internal side. Rare finding found to hold a deep study investment oppurtunity in the province, that might need to expand more seriously. Read more of this post

Mebidang: Rencana menuju Medan metropolitan

Penyematan gelar metropolitan bagi kota Medan sering diungkapkan sejumlah media, terutama yang berbasis lokal. Dalam penelusuran di mesin pencari daring, Google, julukan kota metropolitan bagi Medan, banyak terlontar. Salah satu yang menyita perhatian adalah artikel yang dipublikasi oleh laman Indo-tourism.com, menyebutkan bahwa kota Medan termasuk dalam daftar 10 kota metropolitan di Indonesia, bersanding bersama Pekanbaru, Banjarmasin, Palembang, Balikpapan, Semarang, Makassar, Bandung, Jakarta dan Surabaya.

Namun, laman tersebut tidak melengkapinya dengan kriteria yang berhasil digondol Medan sehingga layak disebut sebagai kota metropolitan. Tetapi hanya menyebutkan uraian mengenai sejarah ringkas kota Medan dalam bahasa Inggris.

Hasil penelusuran Google yang sangat menolong adalah informasi mengenai daftar kawasan metropolitan di Indonesia, yang dapat diunduh di laman penataanruang.net. Berkas dengan ekstensi pdf (portable document file) tersebut, cukup 'mengangkat alis mata' manakala kita baca.

Kawasan metropolitan di provinsi Sumatera Utara ternyata telah diwacanakan sejak tahun 1980-an. Rencana besar tersebut melibatkan wilayah kota Medan, kota Binjai, dan kabupaten Deli Serdang. Untuk memudahkan penyebutan, kawasan tersebut diberi nama Mebidang, yang merupakan peringkasan dari nama ketiga wilayah pemerintahan tersebut.

Upaya untuk mewujudkan kawasan Mebidang ini, hendak direalisasikan menyusul beberapa studi perkotaan Kota Medan yang telah melibatkan wilayah sekitarnya dalam studi tersebut. Beberapa studi yang memperkenalkan konsep Mebidang adalah MUDS (Medan Urban Development Study) pada 1980, MULMS (Medan Urban Land Management Study) 1986 dan penilaian ADB (Asian Development Bank) atas proyek MUDP II tahun 1987.

Beberapa kutipan dari berkas penataanruang.net tersebut bahkan dengan gamblang menuturkan proyek besar yang tidak hanya berkutat pada lingkup pendayagunaan potensi kawasan metropolitan ini di tingkat lokal, namun juga diperluas hingga tingkat Internasional, yakni sebagai berikut:

"Pada tahun yang sama, Ditjen Cipta Karya Departemen PU mempersiapkan Rencana Umum Kota Kawasan Medan Raya yang merupakan rencana pengembangan kawasan yang meliputi beberapa daerah regional. Pada saat itu pengembangan kawasan metropolitan Mebidang diarahkan untuk menjadi salah satu titik pertumbuhan segitiga pertumbuhan utara IMT-GT (Indonesia Malaysia Thailand – Growth Triangle) dalam rangka menyongsong AFTA 1992.

Metropolitan Mebidang merupakan salah satu dari 6 kawasan tertentu di Indonesia sebagai Pusat Kegiatan Nasional dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN)."

Pemprov Sumut akhirnya mengeluarkan Rencana Umum Tata Ruang Perkotaan (RUTRP) kawasan Mebidang Metropolitan pada tahun 1996. Pengesahan RUTRP ini merupakan tindak lanjut dari sejumlah penelitian mengenai kawasan Mebidang Metropolitan.

Lebih jauh, penataanruang.net menjelaskan terdapat 2 skenario dari perencanaan tata ruang tersebut. Perkembangan ekstensif dan perkembangan terbatas. Walau demikian, keduanya tetap memusatkan pada fungsi-fungsi utama masing kota, pusat bisnis dan keuangan di bekas lahan bandara Polonia, dan pelabuhan Belawan (untuk Medan), fungsi kota satelit di Sunggal Barat

hingga Binjai Kota (untuk Binjai). Terakhir, peran bandara di Kuala Namu akan menyatukan kota-kota di sebelah timur, Lubuk Pakam, Tanjung Morawa dan Serdang (untuk Deli Serdang).

Kendala

Dua permasalahan utama yang dinilai menghambat mewujudkan kawasan Mebidang, pada dasarnya terbagi atas dua isu, yakni isu transportasi dan lingkungan. Isu transportasi masih berkutat pada persoalan kemacetan. Pembangunan jalan tol Belmera (Belawan-Medan-Tanjung Morawa) dan jalan layang, serta proyek bandara baru di Kuala Namu, diharapkan dapat mengatasi persoalan ini. Tetapi, masih belum menunjukkan hasil yang efektif.

Di sisi lingkungan, persoalan banjir diperkirakan semakin memburuk karena pembangunan pemukiman dan pertumbuhan penduduk di sepanjang bantaran sungai. Ditambah kebiasaan buruk warga dalam pembuangan sampah ke sungai.

Dari penuturan penataanruang.net tersebut, sejumlah tanya masih juga tersisa. Utamanya, mengenai perkembangan terakhir perencanaan RTURP Mebidang ini. Termasuk agenda cadangan pemerintah bila salah satu skenario tidak atau lamban terwujud, semisal mega proyek bandara di Kuala Namu. Wah, jalan terjal menuju kawasan metropolitan ternyata masih butuh waktu panjang.

Catatan:

======

Uniknya, kabupaten Tanah Karo juga disebut-sebut berpeluang masuk dalam kawasan metropolitan ini. Nama baru juga sudah dicadangkan. Mebidangro (kita tentu sudah tahu apa arti dari kata 'ro' tersebut). Alasannya, kabupaten yang terkenal hasil pertanian ini termasuk kawasan tangkapan hujan dan air yang sangat strategis untuk pembangunan wilayah Propinsi Sumatera Utara secara keseluruhan.

Rujukan:

1. Indo-tourism.com

2. Penataanruang.net

3. Google.

Medan Metropolitan: Apa kata Wikipedia?

http://www.ananta.jissgroup.com/jurnalism/medan-metropolitan-apa-kata-wikipedia.html/attachment/214

“Medan kota metropolitan belum terwujud.” Penggalan kalimat berikut ataupun yang jua senada dengannya, pernah akrab dalam pengamatan kita sebagai warga kota Medan. Utamanya, bila kita melanggani, dan setidaknya pernah mengerling sejenak pada judul tebal di halaman muka surat kabar.

Kala teranyar saya mendapati ungkapan “Medan kota metropolitan” ini, adalah saat mengalihbahasakan artikel pewartaan yang bertumpu pada kabar 100 hari kinerja Walikota Medan terpilih 2010-2015, Rahudman Harahap. Harus saya akui, kata metropolitan yang mirip dengan nama saya pribadi sedikit ‘menggelitik’ rasa penasaran. Namun, yang paling mendorong naluri skeptis sebagaimana ihwalnya para pewarta adalah variabel yang menjadi landasan pernyataan tersebut.

Bila disarikan, penggalan kalimat mengkritisi kinerja pemerintah kota Medan ini, mengungkit kondisi jalan raya yang belum memenuhi kenyamanan para warga yang melaju di atasnya. Variabel banjir juga turut disebut kerap mengurangi nilai Medan menuju metropolitan. Maka, tidak harus heran bila mendapati pernyataan ini terucap dari seorang wakil rakyat atau anggota DPRD.

Nah, yang menjadi sorotan dalam tulisan ini adalah kata “metropolitan” tadi. Apakah metropolitan hanya sebuah embel-embel yang tersemat pada ibukota provinsi, dimana Medan menjadi ibukota provinsi Sumatera Utara? Atau hanya variabel ‘jalan raya’ dan ‘banjir’ yang menjadi poin perhatian?

Berguru ke Wikipedia

——————–

Pertanyaan-pertanyaan di atas membawa saya ke ensiklopedia daring terkemuka, Wikipedia, seusai mendapat anjuran dari paman Google. Dalam penuturannya, kata “metropolitan” disematkan bagi sebuah wilayah yang mencakup beberapa kota besar, dan saling berdekatan dari faktor lokasinya. Berikut penjelasan gamblang dari Wikipedia:

Wilayah metropolitan adalah sebuah pusat populasi besar yang terdiri atas satu metropolis besar dan daerah sekitarnya, atau beberapa kota sentral yang saling bertetangga dan daerah sekitarnya. Satu kota besar atau lebih dapat berperan sebagai hub-nya, dan wilayah metropolitan biasanya diberi nama sesuai dengan kota sentral terbesar atau terpenting di dalamnya.

Wilayah metropolitan biasanya menggabungkan sebuah aglomerasi (daerah pemukiman lanjutan) dengan zona lingkaran urban, tapi dekat dengan pusat perkantoran atau perdagangan. Zona-zona ini juga dikenal sebagai lingkaran komuter, dan dapat meluas melewati lingkaran urban tergantung definisi yang digunakan. Biasanya berupa daerah yang bukan bagian dari kota tapi terhubung dengan kota. Contohnya, Pasadena, California dimasukkan dalam wilayah metro Los Angeles, California. Bukan kota yang sama, tapi tetap terhubung.

Namun, diakui oleh situs jejaring pengumpul artikel yang sedang getol memohon bantuan dana ini, parameter atau syarat-syarat guna memenuhi pengimbuhan metropolitan masih bersifat unik. Misalnya, sejumlah negara seperti: Australia, Prancis, Uni Eropa, Jepang, Pakistan, dan Amerika Serikat, memiliki artian dan parameternya sendiri sesuai pengesahan dari badan resmi kenegaraannya.

Akan tetapi, faktor jumlah penduduk tidak layak mendapat porsi dalam penilaian metropolitan ini.

In practice the parameters of metropolitan areas, in both official and unofficial usage, are not consistent. Sometimes they are little different from an urban area, and in other cases they cover broad regions that have little relation to the traditional concept of a city as a single urban settlement. Thus all metropolitan area figures should be treated as interpretations rather than as hard facts. Metro area population figures given by different sources for the same place can vary by millions, and there is a tendency for people to promote the highest figure available for their own “city”. However the most ambitious metropolitan area population figures are often better seen as the population of a “metropolitan region” than of a “city”.

Setelah mendapati secuil definisi metropolitan tadi, apakah kita bisa dengan jumawa menyatakan bahwa Medan adalah kota metropolitan atau justru negasinya. Masih begitu pagi untuk beranjak ke pintu kesimpulan, karena belum melibatkan pakar/analis dan badan resmi nasional yang lebih berbobot untuk dirujuk.

Setidaknya ada celah kecil yang menerangi kegusaran saya akan embel-embel metropolitan tadi. Yakni merujuk pada lingkup wilayah yang terdiri atas beberapa kota, bukan satu kota. Jadi, bila kita mengupayakan “Medan menuju metropolitan” berarti ada (satu atau beberapa) kota besar lain yang akan menjadi jaringannya.

Apakah daerah proyek bandara baru pengganti Polonia, Kuala Namu, yang menjadi variabel penyempurna Medan metropolitan?

Lalu, bagaimana dengan variabel “jalan raya” dan “banjir” tadi? Apakah tidak termasuk dalam penilaian metropolitan? Bijaknya, saya harus menelisik lebih jauh lagi dari penasaran akan sebutan Medan metropolitan ini.

Atau ada yang bisa membantu memberi rujukan dan petuah? Jangan sungkan memberi komentar atau mengirim ke e-mail saya: anantapolitan@gmail.com.

Credit photo: indo-tourism.com

References: Wikipedia

===== quoted from: http://www.ananta.jissgroup.com/jurnalism/medan-metropolitan-apa-kata-wikipedia.html

Pakar: Perencanaan kota harus libatkan masyarakat

== Berita Selasa, 09 Maret 2010 

ANANTA POLITAN BANGUN
WASPADA ONLINE

MEDAN – Masalah kawasan kumuh yang selalu menjadi perhatian pembangunan kota adalah benang merah dari enggannya pemerintah melibatkan masyarakat dalam perencanaan kota.

"Padahal, perencanaan kota yang berhasil akan terwujud bila melibatkan seluruh pemangku kepentingan (stake holder) termasuk diantaranya masyarakat," ungkap pakar perencanaan kota dari Universitas Harvard (Amerika Serikat), John Taylor, kepada Waspada Online, tadi sore.

Taylor merujuk pada data Bappenas bahwa pertumbuhan kawasan kumuh di Indonesia mencapai 2,9 persen setiap tahunnya (1999-2004), dimana kawasan kumuh tersebut meningkat dari 47 ribu ha hingga menjadi 54 ribu ha. 

"Tindakan Pemda terhadap pendatang baru di perkotaan masih lebih pada sifat reaktif dan belum antisipatif. Program antisipatif baru dijalankan begitu tersandung masalah, sehingga tidak aneh bila kawasan kumuh terus meluas," kata pakar yang ditunjuk Pemko Solo (Jawa Tengah) dan Pemko Sawalunto (Sumatera Barat) sebagai penasehat program perencanaan kota.

Peran masyarakat dalam perencanaan kota telah diakomodasi dalam UU No 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang. Dalam UU tersebut, Ditjen Penataan Ruang dengan jelas mendorong seluruh Pemda merevisi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan Rencana Tata Ruang Kota (RTRK) daerahnya dan segera memberlakukannya.

"Yang paling penting diketahui adalah perencanaan kota untuk penanganan kawasan kumuh harus bersifat inklusid, dan tidak lagi eksklusif yang menganggap isu tersebut menjadi perhatian pemerintah pusat saja," imbuhnya.

Dalam itu, Taylor menghimbau agar Pemko Medan menerapkan kebijakan tersebut.

Editor: SATRIADI TANJUNG
(wol-mdn)